Surat Dari Ayah

Setiap sabtu pagi, Caca selalu menantikan surat dari ayahnya. Sejak ayahnya bekerja di luar kota, surat-surat itu menjadi penghubung mereka yang paling berarti. Meski hanya beberapa lembar kertas, setiap kata yang ditulis ayahnya terasa hangat dan penuh kasih sayang.

   Suatu pagi, saat Caca membuka kotak surat, dia menemukan surat dengan amplop biru yang sangat dia kenal. Dengan cepat, dia berlari ke dalam rumah dan duduk di meja dapur, di mana ibunya sedang menyiapkan sarapan.

"Surat dari Ayah!" teriak Caca dengan penuh semangat.

Ibu tersenyum dan mendekat. "Buka dan bacakan untuk kita, Nak."

Caca membuka amplop itu dengan hati-hati dan mulai membaca:

"Untuk Caca dan ibu,

   Semoga kalian sehat dan bahagia di rumah. Ayah merindukan kalian setiap hari. Kerja di kota memang sulit, tapi setiap kali Ayah merasa lelah, Ayah mengingat senyum kalian, dan itu memberikan Ayah kekuatan.

   Caca, Ayah sangat bangga dengan prestasimu di sekolah. Teruslah belajar dan berusaha yang terbaik. Ibu, terima kasih telah menjaga caca dengan penuh kasih sayang.

   Ayah berjanji, setelah proyek ini selesai, Ayah akan pulang dan kita akan menghabiskan banyak waktu bersama. Tetaplah kuat dan saling mendukung.

Dengan cinta, Ayah."

Air mata mengalir di pipi caca. Meski surat itu singkat, dia merasakan kehangatan dan cinta ayahnya yang tak terbatas.

Ibu memeluk Caca dan berkata, "Kita harus tetap sabar dan kuat, Nak. Ayah bekerja keras untuk kita semua. Ketika dia pulang, kita akan merayakan kebersamaan kita dengan penuh sukacita."

Caca mengangguk dan tersenyum. Meski mereka terpisah jarak, cinta dan dukungan keluarga mereka tidak pernah berkurang. Setiap surat dari Ayah adalah pengingat bahwa mereka selalu bersama dalam hati, dan itu memberikan kekuatan untuk menghadapi setiap hari dengan semangat.